Satu nafas


Pernah ketika, hati merasa manisnya cinta,
Sepertinya diri sudah di tetaman syurga,
Tak terkesah beribu bencana,
Tak terkesan berjuta derita,
Yang penting, dia ada.

Dan ada juga ketika,
Hatinya remuk ,
Kekecewaan dan derita meresap ke setiap zarah,
Sehingga bernafas pun terasa payah,
Air matanya menjadi terlalu murah.

Pernah satu ketika,
Kesedihan itu lebih aku dambai dari kebahagiaan,
Tangisan itu lebih menenangkan berbanding senyuman.

Tertanya-tanya,
Allah, masih mampukan aku tersenyum,
Senyuman yang bukan semata menutupi kedukaan?

Hati itu terus belajar,
Kala suka, kala duka,
itu semua aturan-Nya,
Dan Dia....Dia tak pernah tersilap mengatur rencana,
Takkan pernah terleka menjaga hamba-Nya.

Terima kasih,
kepada peribadi yang pernah menyinggah dalam hidup.
Yang mengajar bahawa hati ini bisa menyintai,
Dan yang juga memberi sedar,
Hati ini bisa berkecai menjadi serpihan-serpihan yang tajam dan melukakan.

Nah, kita bukan budak kecil,
Yang menyimpan dendam atau membiarkan diri terus dan terus dibaluti kesedihan.

Hati itu bisa jadi seperti besi,
Semakin panas api yang membakarnya,
Semakin kental ketukan-ketukan yang membentuknya,
Semakin kukuh ia, semakin tajam potongannya.

Mungkin juga seperti ulat beluncas yang boroi dan menggelikan,
Saat dia usai bermujahadah di dalam kepompongnya,
Dia lahir menjadi rama-rama yang memukau pandangan,
Memenuhi tujuan penciptaannya.

Kita budak yang semakin hari semakin belajar,
Untuk merangkah, bertatih, berjalan dan berlari,
Walau tersembam, walau terkadang mundur ke belakang,
Kita cuba untuk terus ke hadapan,
Mengejar satu kematian,
Mencorak sebuah kehidupan.

#whatdoesntkillyoumakeyoustronger
#hikmahituperludigali

Posted via DraftCraft app

No comments: